Dapatkan Ebook Teknik Penyembuhan Prana Gratis

Hampir Gila - Sembuh Setelah di Psikoterapi Dengan Prana

Testimoni » Hampir Gila - Sembuh Setelah di Psikoterapi Dengan Prana

Saya mahasiswa psikologi semester akhir dan mengambil spesialisasi psikologi klinis. Psikologi klinis merupakan keilmuan psikologi yang lebih di fokuskan untuk mengatasi berbagai macam gangguan psikis atau orang pada umumnya menyebut sebagai gangguan jiwa. Fokus saya adalah untuk mengatasi pribadi-pribadi yang rentan setress dan depresi. Karena jika tidak segera di atasi stress dan depresi bisa menjadi “Gila” dan jika sudah gila menjadi sukar untuk di sembuhkan.

 

Sudah selama 10 bulan ini, saya bergabung dengan LSM yang menaungi perempuan. Kasus paling sering sih tentang KDRT, pelecehan sexual hingga , sex bebas. Di LSM tersebut kami memberikan penyuluhan, perlindungan sekaligus uapaya hukum bila di perlukan.

 

Saya punya ketrampilan konseling. Sehingga saya di tugaskan dalam divisi pemulihan pasca trauma. Setiap saya bertugas di sana paling tidak dalam sehari saya menangani sedikitnya 3 wanita yang mengalami beraneka macam kasus. Mereka datang ke LSM dengan harapan yang sederhana. Yaitu bisa hidup normal seperti wanita-wanita yang lainnya. Dari observasi yang saya lakukan saat sesi konseling saya menyimpulkan mereka stress berat dan ada juga yang depresi, beberapa diantaranya ada yang antara sadar dan tidak alias hampir gila. Astaga…

 

Sebagai seseorang yang bersinggungan langsung dengan mereka, saya merasa sangat tergugah. Bila saya bertemu dengan klien yang stress itu masih bagus. Mereka masih antusias membicarakan masalahnya (mungkin biar lega) lalu sebisa mungkin kita cari solusi yang baik bagi keduanya. Sementara kalo bertemu dengan pasien yang depressi, wah sulitnya bukan main. Mereka terlihat layu, tak ada bara kehidupan di matanya. Mukanya datar, dan tak ada semangat. Di ajak ngomong saja kadang ndak ada respon. Tubuhnya memang di hadapan saya, tapi pikiriannya melayang entah kemana. Yang seperti inilah, bila tak di tangani dengan seksama bisa menyebabkan gangguan psikis akut yaitu Gila.

 

Lalu saya punya pikiran bagaimana cara memulihkan orang yang stress atau terlanjur depressi. Tanpa ada banyak kontak secara verbal antara saya dan pasien. Mulailah saya mencari alternatif penyembuhan yang lain, dari yang ilmiah, yang religius hingga yang mistis. Setelah saya memahami beberapa aliran penyembuhan saya lebih condong cocok ke Prana. Lantaran Penyembuhan dengan prana merupakan penyembuhan yang unsur mistis dan ritualnya sudah di singkirkan.

 

Sayapun mengikuti pelatihan prana jarak jauh (red – mengambil psikoterapi dengan prana).  Butuh waktu satu minggu bagi saya untuk benar-benar sanggup memahami dan mempraktikkannya dengan benar. Nah ada cerita menarik disini. Sebelum saya mengujicobakan pada manusia, Saya, mengujicobakan prana untuk melenyapkan stress pada hewan terlebih dahulu. Caranya dengan melakukan ujicoba sederhana pada ayam yang “kelaba’an” (red-tidak tenang karena suatu hal). Setelah saya memproyeksikan prana ke ayam. Ayamnya berangsur-angsur mulai tenang. Dari situ saya bertambah yakin penyembuhan prana.

 

Sesampainya di klinik LSM. Saya mendapat tugas untuk memulihkan seorang wanita yang depresi berat karena menjadi korban KDRT. Seperti standarnya orang depresi. Dia tidak datang sendiri, tetapi di antar oleh pihak keluarga. Tatapan matanya kosong, bahu membungkuk, raut muka datar dan seperti tanaman yang hampir mati. Tampak jelas terlihat, wanita itu tak punya semangat untuk hidup. Sesampainya di ruangan yang di khususkan untuk konseling. Saya menanyainya dengan pertanyaan standar. Sayang sekali wanita itu tidak merespon pertannyaan sayau. Pikirku mungkin pertannyaannya yang kurang sesuai. Lalu saya mulai menanyakan perihal hobynya. Karena biasanya se depresi apapun seseorang ketika ditanyai perihal hoby atau kegiatan yang di senanginya, mereka mau sedikit berbicara. Tapi klien saya yang ini rupanya lain dari pada yang lain. Saya sudah menanyakan perihal hobynya namun dia malah menatap saya dengan wajah datar, tatapan kosong dan tak ada kata terucap. Mengtehui bahwa klien sudah tidak merespon sayapun melakukan penyembuhan dengan prana. Dengan tehnik-tehnik yang telah saya pelajari dari seorang guru yang murah hati dan juga kemantapan hati. Sayapun melakukan serangkaian tehnik yang sudah saya pelajari. Setelah membersihkan Tubuh esoteriknya dari energi buruk lalu memproyeksikan prana ke beberapa cakra yang saya rasakan tidak berfunsgi dengan semestinya. Tiba-tiba klien menunduk, air mata menets dan berjatuhan kelantai. Melihat respon yang seperti itu saya membiarkannya menangis. Itu merupakan Gold Moment bagi orang yang depressi. Karena tangisan akan melepaskan semua unek-unek kemarahan, kesedihan dan ketidak puasan yang dia alami. Saya membiarkan dia larut dalam kesedihannya. Setelah tangisannya mereda, saya baru menanyainya dan anehnya dia merespon dengan baik sekali.

 

Saya akui Psikoterapi dengan prana bukanlah isapan jempol belaka. Bagi yang belum mencobanya pasti akan tidak percaya. Beruntung saya bukanlah tipe orang yang mencemooh sebelum mencoba. Karena itulah meskipun pada awalnya saya tidak percaya dengan prana tapi saya mau mencobanya. Setelah di coba ternyata efektif dan bisa saya gunakan untuk membantu profesi saya. Prana adalah anugrah dari Tuhan. Dan beruntungnya saya bisa bertemu dengan Guru yang benar-benar tulus dalam mengajarkan ilmunya.

 

Oh ya, wanita dalam cerita saya diatas kondisinya sekarang sudah lebih baik. Dia memilih bercerai dengan suaminya dan telah melepaskan semua perbuatan buruk yang pernah di timpanya. Kini wanita itu mendirikan warung makan dan kabar baiknya warung tersebut ramai pelanggan.  Senang rasanya bisa membantu orang lain menemukan hidupnya kembali. Trimakasih Tuhan trimakasih Guru.

 

(Ratna - 24th/Mahasiswi/Jakarta)